- sebuah realita yang terjabarkan melalui tulisan -
Female
Mengawali hari dengan senyuman sambil menikmati a cup of coffee in the morning, terasa lengkap. Melatih diri untuk tersenyum dapat mengobati sakitnya hati dan pedihnya luka batin. Semoga hari-hari ini dijalani dengan keikhlasan dan memulai untuk senyumanis kepada setiap insan.
lajang, fase 20an, pembuat peta, moody, suka difoto, sedikit narsis, jutek, cenderung galak, simple, not smart and too far from clever, sok cuek padahal full of care [hu..hu]
belajar menulis, sedikit curhat, proses pendewasaan, adaptasi kenyataan, menanti fajar, kesendirian, learn to stop crying
kaos putih, kemeja bergaris, sepatu flat, lipstik cokelat, body mist flower, kuteks berwarna, lulur bali, film korea, ten2five songs, barang discount-an [ha..ha]
Mendadak menjadi sosok aneh ketika bersentuhan dengan yang namanya perasaan dan hati. A workacholic wannabe tapi masih "little-little i can". Berusaha menjadi wanita sesungguhnya *halah*
Berulang kali saya bilang kalau
mau menjalanin hubungan ini kita harus serius, maksudnya saya ingin berhubungan
secara serius, yang nantinya ada tujuan ga cuma gini-gini doank. Awalnya saat
masa-masa pendekatan semua berjalan lancar [Alhamdulillah], komunikasi dua arah
berjalan lancar, pengertian sudah ada, kejujuran sudah terlaksana, dan rasa
ingin selalu bersama [tentunya] terus menerus muncul. Masa yang indah untuk
saling mengerti satu sama lain, menerima, menyesuaikan dan mulai menapaki
perjalanan selanjutnya. Oh iya, katanya harus ada kecocokan, dan ternyata
selama pendekatan itu terjadi ya kecocokan itu ada [mungkin]. Dunno??
Setelah beberapa waktu berselang
sampailah tahap dimana saya dan dia sama-sama yakin dan ingin menjalani semua
ini dalam satu ikatan. Terserahlah mau dikatakan apa, I don't care, karena
sebetulnya saya juga dulu tidak menganut faham "status itu penting"
namun beranggapan dan sangat mengimani bahwa status itu ga penting, yang penting gimana caranya bisa menikmati
kebersamaan. Tapi itu ga berlaku ketika saya dihadapkan oleh sosok yang
sudah saya sukai sejak lama, sadar bahwa yang dekat dengan saya itu adalah dia,
maka saya ga mau mengulangi kesalahan yang sama yang pernah saya buat
sebelumnya. Saya ga mau kehilangan dia, ga mau pisah dari dia, dan ingin
memilikinya, utuh tanpa terbagi. Egoiskah?? Tentu. Tapi saya cuma ingin
bahagia, ga lebih dan saya sadar betul bahwa kebahagian saya itu mungkin
berasal dari dia. Naif?? Memang. But i don't care, once again..i don't care.
Ternyata setelah dijalani segala
sesuatunya ga berjalan mulus seperti yang saya mau, banyak banget hal yang
perlu dimengerti. Entah dari dia maupun saya. Jelas lah karena kita berasal
dari pribadi yang berbeda, ternyata masih perlu menyusun semuanya dengan baik.
Mulai dari kesel–kesel, sebel-sebel,
capek-capek, cuek-cuek, bete-bete, ngambek-ngambek….egh semua ketemu jadi satu.
Cuma kata "sabar" yang jadi andalan saya kalau sudah mulai begitu,
tapi tau ga? Ujung-ujungnya ya baik aja lagi, ga tahan euy kalau ga komunikasi,
ga sms. Sindrom ga bisa jauh dan ga mau lepas sepertinya emang udah nepel
kaya perangko. Huff.
Maunya marah tapi ga bisa, maunya
ngambek tapi ga tega, maunya cuek tapi ga sanggup, intinya saya ini lemah. Pertahanan
dan keegoisan diri ini udah mulai luntur kena hawa-hawa cinta. Parah.
Bisa-bisanya ya? Ga tahu deh, rasanya aneh aja ngejalanin kenyataan yang kaya
gini, tapi suer saya tetep ga bisa apa-apa. Just let it flow, lebih tepatnya
saya jatuh dalam settinganya. Ups..!!
Kadang kalau lagi sendirian tuh
mikirnya yang aneh-aneh, macem-macem, merangkai kata dengan sendirinya,
berfikir keras kata-kata apa yang akan disampaikan ketika bertemu dengan dia.
Tapi..ternyata eh ternyata [judi itu haram..terewww *halah*] kalau sudah ketemu
ya sudah, hilang semua, terbang semua, dalam hati cuma bilang "capek
deh". Payah.
Sudah hampir satu bulan ini
komunikasi hanya via sms, ym dan pertemuan seminggu sekali. Rasanya rutinitas
telepon malam-malam itu sudah [hampir] ga ada lagi. Entah disebabkan mahalnya tarif
dari salah satu provider, kesibukan masing-masing, atau memang udah ngerasa ga
perlu lagi. Padahal saya sih maunya tetap bisa komunikasi, karena biasanya
kalau via telepon itu bisa ngomong dari hati ke hati. Pengalaman beberapa bulan
yang lalu sih gitu, kita [saya dan dia] bisa lebih terbuka, lebih touching
heart with sweetest words, intinya bisa tau sama tau apa yang dimau. Kalau
sekarang sehari sekali sms itu sudah syukur, ga bisa mengharapkan lebih karena
saya ga mau maksa..ga mau maksa..ga mau maksa dan ga mau banyak protes.
Terserah.
Pikiran negative muncul "apa
dia begini juga ya sama pacarnya yang dulu"….aaaahhggggg mau teriak
keras-keras kalau my jealously appear suddenly. Menyebalkan.
Dicuekin juga ga yah?? Apa
jangan-jangan?? Kayanya lebih sayang sama dia daripada sama saya??
Mau nangis…hiks hiks
Kenapa sih?? Nyebelin banget
deh?? Bisa ga sih sedikit aja ngertiin maunya aku gimana??
Sabar……Hufff
Karena banyak banget yang 'ngeganjel'
di hati sampai ga bisa ditulis, nyesek banget. Tapi ga bisa berbuat apa-apa,
semoga saya masih bisa sabar, tahan, mengerti, menjalani dengan keikhlasan,
menyayangi dengan ketulusan, tersenyumanis walaupun terasa perih, dan bisa
terus membuatnya bahagia.
Semoga ya bisa kuat,
Semoga saya tidak egois,
Semoga semua ini berujung indah,
nantinya …
"I love you"
Ps : bisa ga kata-kata
"maaf" dan "makasih" diganti "sayang" dan "i love u"
Sekarang ini baru terasa kalau ternyata saya cinta rumah saya yang dulu, masih menjadi milik saya sih namun sedang tidak dalam pengawasan saya. Alias the house for rent a while.. Entah tiba-tiba kangen banget pengen berada di rumah itu, beristirahat, menikmati indahnya sore hari dan dinginnya angin malam hari. Bersantai di beranda atas dan menikmati secangkir coklat hangat..bersama..hmm nikmat.
Ga ngerti kenapa, saya suntuk banget hari ini, disebabkan susu basi yang saya minum..jadi sakit perut deh..ichh. Pulang ke rumah kenapa hawanya ga enak yah, enak tuh sampe rumah mandi trus tidur. Bangun pagi-pagi trus mandi trus berangkat ke kantor lagi, ga betah berlama-lama di rumah. Jenuh, suntuk, bosen...really didn't love living in there. Home sick..!!!
Melihat, merasakan, dan menjalani kehidupan yang jauh dari kota, jauh dari hiburan, gegap gempita tetangga super berisik, lampu terang benderang, jalanan tanpa tanah sehingga ga bikin motor kotor dan dekil, udara panas nan gerah..rindu itu semuaaaaaaaaaa. Serasa semua saya tanggung sendiri, masalah semua dirasain sendiri, dipikul sendiri, diselesaikan sendiri. mau nangis susah, mau marah bingung, mau berontak ga bisa terpaksa hanya bisa diam.
Semoga dua tahun ini bisa cepat berlalu, saya bisa kembali ke rumah tercinta warisan dari bapak tersayang. Menata kembali kehidupan pribadi saya, menjadi orang yang mandiri dan dewasa tepat di tempatnya. Harus bertahan, harus bisa bertahan, dan wajib bertahan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik lagi, semoga segala sesuatunya dapat berjalan dengan semestinya.
Harapan saya cuma satu, apa yang telah saya lakukan saat ini bisa berjalan lancar, dan saatnya nanti bisa menikmati hasil dari kerja keras saya selama ini. Walaupun semua ini harus ditanggung sendiri, harus dipikul sendiri dan ketika masalah datang harus diselesaikan sendiri. Semoga ALLAH SWT terus memberi saya kekuatan untuk tetap kuat dan bisa menyelesaikan semua ini dengan baik. Amin.
Ketika semua beban dan masalah datang mendera Tapi tak seorangpun merasa bisa menanganinya Tak ada siapapun yang siap menanggungnya Dan hanya saya yang dirasa mampu Maka harus dengan keikhlasan semua itu diselesaikan Berharap bahwa ALLAH SWT itu Maha Bijaksana Sehingga dia akan memberikan saya kekuatan Sebagaimana yang diberikan kepada orang-orang itu Dan saya tetap harus kuat dan mampu Semoga semua ini berkah...
Saya berharap dia cukup tahu apa isi hati ini, dia cukup bisa mengerti apa yang saya inginkan. Walaupun pada kenyataanya saat ini saya yang harus lebih banyak mengerti, bersabar dan berkorban untuk setiap hal. Kalau dulu saya yang bertindak egois, terlalu cuek dan tak mau peduli serta ingin selalu dimengerti. Untuk kali ini tidak, saya buang jauh-jauh sifat itu yang nantinya akan membuat ketidaksinkronan antara saya dan dia. Maka lebih baik belajar untuk mengalah, mendengar, bersabar, mengerti dan menyayanginya dengan tulus. Semoga saya mampu bertahan, karena saya yang memilihnya.
Sadar betul bahwa dia memiliki kesamaan sifat dengan saya, karena kebetulan kita di dalam zodiak yang sama. Percaya ga percaya sih, setelah dimengerti ternyata saya seperti bercermin, saya itu dia lebih tepatnya seperti itulah saya. Sehingga semoga saya bisa cukup mengerti dirinya seperti mengerti diri sendiri. Dengan ini saya belajar, bagaimana harus mengerti sifat dan sikap orang lain yang kadang-kadang membuat saya bingung dan sedih sendiri. Kemudian sadar ternyata mungkin seperti inilah perasaan orang-orang yang pernah dekat dengan saya waktu lampau. Hehehe.
Masih setengah tidak percaya bahwa perasaan kita bisa sama, lebih tepatnya disamakan, disatu posisi yang sama, yang bisa dirasakan dan dinikmati bersama. Terima kasih TUHAN...kau kirim dia untukku...untuk selalu mengingatkanku akan rasa kasih sayang ini ternyata tidak mati.
Aku sayang kamu apa adanya, seperti sinarnya mentari yang tulus menyinari bumi Aku menyayangimu dengan sangat sederhana, seperti aliran air yang mengikuti arusnya Aku ingin memilikimu utuh dari cipta, rasa, dan karsa...seperti layaknya ciptaan TUHAN yang tiada terkira Jika itu terlalu berlebihan, maka biarkan aku melihatmu dengan penuh cinta